oleh

Dimanfaatkan?” atau Memang Kita yang Memilih Bermanfaat

Oleh: Adnan Buyung Lubis

Kemarin saya berbincang panjang dengan Ketua Umum AMPUH, Muhammad Hadi Susandra Lubis — yang kebetulan juga adik kandung saya. Obrolan kami sederhana, tapi isinya berat: bagaimana menapaki kehidupan yang sering bersinggungan dengan para pejabat, khususnya dalam dinamika interaksi dengan Pemerintah Kota Padangsidimpuan.

Di tengah diskusi itu, Hadi menyampaikan satu kalimat yang membuat saya terdiam. Ia berkata, hubungan-hubungan yang terjalin selama ini sering dinilai orang lain hanya dari satu sudut pandang: azas manfaat. Seolah-olah setiap kedekatan, komunikasi, atau kontribusi selalu ditakar dengan kecurigaan — “siapa memanfaatkan siapa?”

Saya hanya menjawab pelan, “Biarkan saja.”

Karena bagi saya, selama keberadaan kita masih memberi arti, membantu membuka jalan, menjembatani persoalan, atau sekadar menjadi tempat orang lain bertanya dan berharap — maka itu bukan sedang dimanfaatkan. Itu tanda bahwa kita masih punya nilai.

Dalam kehidupan sosial, apalagi yang bersentuhan dengan ruang publik dan pemerintahan, tidak mungkin semua orang memandang dengan kacamata yang sama. Ada yang melihatnya sebagai pengabdian, ada yang menilainya sebagai kepentingan, dan ada pula yang mencurigainya sebagai transaksi. Padahal belum tentu demikian.

Kadang orang lupa, menjadi bermanfaat memang berisiko disalahpahami. Tapi jauh lebih berbahaya jika kita memilih tidak berbuat apa-apa hanya karena takut dianggap “dimanfaatkan”.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang paling pandai menilai orang lain — tapi siapa yang tetap memberi arti, meski sering disalahmengerti.****

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *