oleh

Menjaga “Visi Besar” dari Racun Pragmatisme, Jangan Sampai Marsarak di Tonga Padang

Oleh: Adnan Buyung Lubis

Dalam setiap perjalanan besar, baik dalam organisasi, politik, maupun pengabdian masyarakat, prinsip “Seiring Selangkah” adalah ruh perjuangan. Namun, tantangan terberat seringkali muncul saat idealisme berbenturan dengan kenyataan lapangan yang keras. Di sinilah pragmatisme sering menyelinap menggoda kita untuk mengambil jalan pintas, mengabaikan etika, dan akhirnya menciptakan ketidakelokan di dalam hati.

Jika ketidakelokan ini tidak dikelola, kita terancam melakukan kesalahan fatal yang diperingatkan oleh leluhur Mandailing-Angkola: Marsarak di Tonga Padang (Berpisah di tengah lapangan terbuka).

Bahaya Pragmatisme dan Keretakan Hati
Sikap pragmatis yang hanya berorientasi pada hasil instan seringkali mengorbankan nilai-nilai yang telah disepakati bersama. Ketika rekan seperjuangan mulai berbeda pandang karena mengejar keuntungan jangka pendek, rasa saling percaya akan terkikis. Inilah yang menyebabkan perpecahan yang tidak bermartabat.

Perpisahan yang terjadi “di tengah padang” adalah simbol perpisahan yang liar, tanpa musyawarah, dan menjadi tontonan publik yang memalukan. Hal ini tidak hanya menghancurkan hubungan personal, tetapi juga meruntuhkan Visi Besar yang telah dibangun dengan peluh dan air mata.

Poda Na Lima sebagai Penawar
Untuk menghindari kehancuran ini, kita perlu kembali ke dasar falsafah Poda Na Lima. Poin pertama, Paias Rohamu (Bersihkan Hatimu), adalah kunci utama.

Hati yang bersih akan melahirkan ketulusan untuk tetap setia pada tujuan awal.
Dengan hati yang bersih, perbedaan pandangan tidak akan menjadi api permusuhan, melainkan warna dalam diskusi.

Nasehat untuk Para Pejuang Visi
Bagi kita yang sedang mengemban amanah dan menjalankan visi besar, ingatlah bahwa cara kita mengakhiri sesuatu sama pentingnya dengan cara kita memulainya.

Kedepankan Makkobar (Dialog): Jangan biarkan masalah mengendap. Selesaikan ketegangan dengan duduk bersama secara terhormat, sesuai etika Dalian Na Tolu.

Jaga Marwah Perjuangan: Jangan sampai ego pribadi merusak reputasi kolektif. Berpisah secara terhormat jauh lebih mulia daripada bertahan dalam kemunafikan atau pecah dengan cara yang memalukan.

Kesetiaan pada Proses Perjuangan membutuhkan kesabaran (Benget). Jangan silau oleh hasil cepat jika itu harus mengorbankan kawan seiring.

Penutup
Mari kita renungkan sebuah Umpasa (pantun) tua:

“Sada lulu ni anak, sada lulu ni boru. Sada tahi na ma i, songon sitalasayak.”
(Satu niat dan satu tujuanlah hendaknya, seperti burung sitalasayak yang terbang beriringan).

Visi besar hanya bisa dicapai oleh mereka yang mampu menundukkan ego dan pragmatisme demi kepentingan yang lebih luas. Jangan biarkan sejarah mencatat kita sebagai pecundang yang Marsarak di Tonga Padang, tetapi jadilah pejuang yang dikenal karena keteguhan memegang janji hingga garis akhir.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *