Bayangkan ini: di Davos, Swiss. Salju turun, jas rapi, lencana mengilap. Di satu ruangan, para pemimpin dunia membahas masa depan ekonomi global, geopolitik, dan keberlanjutan planet. Grafik naik-turun, istilah rumit beterbangan. Lalu—jreng!—hadir secangkir kopi tubruk asal Tapanuli Selatan.
Bukan latte art. Bukan single origin dengan alat seharga motor. Tapi kopi tubruk. Kopi rumahan. Kopi warung. Kopi yang biasanya setia menemani gorengan dan obrolan “bang, tambah satu”. Kini ia menemani diskusi kelas dunia di World Economic Forum (WEF) 2026, 19–23 Januari.
Yang membawanya? Coffeenatics.
Kopi tubruk ini bukan sekadar minuman. Ia adalah pernyataan sikap. Cara seduh yang jujur, apa adanya. Bubuk, air panas, aduk sekali, selesai. Tidak ribet, tidak banyak gaya. Tubruk menjaga karakter asli kopi Tapanuli Selatan: kuat, berani, dan tidak neko-neko. Di tengah Davos yang penuh protokol, aroma kopi Nusantara itu seperti berbisik pelan, “Tenang. Cerita besar kadang lahir dari hal sederhana.”
Dan memang, PT. Coffeenatics sendiri lahir dari kesederhanaan. Bukan dari ruang rapat ber-AC atau pitch deck penuh grafik. Ia lahir dari kafe kecil di Medan. Tempat ngopi biasa, tempat obrolan ngalor-ngidul, tempat kopi diseduh pakai niat baik. Pelan tapi pasti, usaha kopi asal Sumatra ini tumbuh. Tidak heboh, tidak meledak-ledak. Konsisten. Dari kafe kecil, kini punya roastery sendiri, mengelola ekosistem kopi dari hulu ke hilir, bahkan menjelma jadi UMKM kopi yang cukup diperhitungkan—termasuk sebagai Mitra Merchant Grab asal Medan. Ini bukti bahwa UMKM Indonesia bisa tampil percaya diri di panggung global. Coffeenatics mengaku selalu menyuarakan dukungan pada kopi lokal, petani, dan kedai-kedai kecil.
Ketika narasi kopi bersinggungan dengan konservasi orangutan Tapanuli—salah satu spesies paling langka di dunia—pengakuan dari Coffeenatics membuat dahi sedikit berkerut, memunculkan pertanyaan sederhana: programnya di desa mana, sejak kapan berjalan, dan kegiatan nyata apa yang dilakukan? Karena kenyataannya, di lapangan tak banyak program perusahaan kopi yang benar-benar bersentuhan langsung dengan konservasi orangutan; kalau pun ada, peranannya sering kecil tapi narasinya besar, presentasinya hijau, sementara praktiknya masih abu-abu.
Semoga pengakuan ini bukan sekadar teori yang harum di media, tapi hening di lapangan. Jangan sampai kopi hanya jadi aksesori keberlanjutan—cantik di brosur, samar di kenyataan.
Ngomong-ngomong soal kopi Tapanuli Selatan, mari luruskan satu hal penting: kopi yang berasal dari Tapanuli Selatan itu kopi Sipirok. Titik.
Masuk kelas specialty, skor cupping rata-rata di atas 81. Ditanam di ketinggian lebih dari 900 mdpl, tersebar di Aek Bilah, Saipar Dolok Hole, Arse, Sipirok, Angkola Timur, hingga Marancar. Bahkan, kopi ini sudah punya hak komunal Indikasi Geografis di bawah Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Tapanuli Selatan. Jadi jelas: ini bukan kopi sembarang kopi.
Coffeenatics, yang mengaku sebagai pionir specialty coffee di Sumatra Utara, memang bukan sekadar kafe. Ia membangun ekosistem: roastery, wholesale, café, retail, akademi, pelatihan, hingga konsultasi bisnis kopi. Pesannya besar tapi sederhana—Coffeenatics punya cerita peduli pada petani lokal dan kepedulian lingkungan terhadap kehidupan orangutan Tapanuli.
Semoga pesan itu tidak berhenti sebagai aftertaste promosi.
Namun demikian, satu hal tetap layak diberi tepuk tangan panjang: Coffeenatics telah membawa kopi Sipirok ke Davos. Dari lereng Tapanuli Selatan ke forum paling prestisius di dunia. Itu bukan capaian kecil. Kini tinggal satu pekerjaan rumah yang tak kalah penting: memastikan cerita besar itu benar-benar pulang ke asalnya—ke petani, ke hutan, dan ke makhluk hidup yang berbagi ruang dengan kopi.
Karena kopi yang baik bukan cuma enak diminum.
Ia juga adil dalam jejaknya.
(Penulis: Irwan Alimuddin Batubara, Ketua MPIG Kopi Tapanuli Selatan)












Komentar