Oleh: Adnan Buyung Lubis,SH
Kemajuan suatu daerah sangat ditentukan oleh keberanian pemimpinnya dalam mengambil keputusan. Ketika seorang pemimpin daerah dihantui rasa takut—takut berbuat salah, takut dikritik, atau takut mengambil risiko—maka roda pemerintahan tidak akan bergerak optimal. Program-program yang dirancang dengan baik pun berpotensi mandek di tengah jalan.
Rasa takut dalam kepemimpinan bukanlah bentuk kehati-hatian yang sehat. Ia justru melahirkan sikap ragu-ragu, lamban, dan cenderung defensif. Dalam kondisi seperti ini, birokrasi kehilangan arah, inovasi terhambat, dan pelayanan publik berjalan sekadar rutinitas tanpa terobosan berarti.
Ironisnya, ketakutan tersebut sering kali berubah menjadi bumerang bagi pemimpin itu sendiri. Alih-alih menjaga stabilitas, rasa takut justru menimbulkan ketidakpastian dan ketidakpercayaan, baik di internal pemerintahan maupun di tengah masyarakat. Daerah pun terjebak dalam stagnasi, tertinggal dari daerah lain yang dipimpin dengan keberanian dan visi yang jelas.
Pemimpin daerah sejatinya dituntut untuk berani mengambil keputusan strategis dengan tetap berlandaskan hukum dan kepentingan publik. Keberanian bukan berarti ceroboh, melainkan kesiapan bertanggung jawab atas pilihan yang diambil. Tanpa itu, harapan akan kemajuan daerah hanya akan menjadi wacana, bukan kenyataan.
Nah jika dikaitkan dengan Pemerintah Kota Padangsidimpuan yang hari ini dipimpin oleh Dr.H.Letnan Dalimunthe,SKM.M.Kes, tepat pada tanggal 20 Februari 2026 mendatang genaplah satu tahun sebagai Walikota Padangsidimpuan. Namun belum terlihat gebrakan yang signifikan untuk kemajuan kota ini, bahkan jika boleh dikatakan masih stagnan.
Akibat demikian banyak masyarakat bertanya-tanya,apa penyebabnya,apakah karena rasa ketakutan dalam mengambil kebijakan atau memang ada hal lain yang menghantui pemikiran Letnan Dalimunthe. Sehingga kota Padangsidimpuan berlayar tanpa nakhoda yang lihai dalam mengarungi tantangan.
Yang namanya Pemimpin pasti menghadapi tantangan sebagaimana di uraikan diatas, tetapi ini kepiawaian kita dalam menghadapi tantangan itu sendiri. Bukan tidak bersikap seperti hari ini.
Memang kita sadari bahwa apa yang ada dalam pemikiran kita tidak sama dengan apa yang dalam pemikiran Walikota Padangsidimpuan. Namun kita berharap Walikota Padangsidimpuan jangan terjebak dengan rasa takut berlaebihan teradap “ duri dalam daging”. Jika memang “duri” tersebut benar-benar membuat infeksi maka amputasi baik rasa takutnya maupun duri dalam daging tersebut. Sehingga cita-cita awal memimpin kota Padangsidimpuan teruwujud. Sebab seorang pemimpin itu harus bisa melewati badai sehingga kapal yang besar bisa bersandar di dermaga.****










Komentar