oleh

Tiyo Ardianto: Mahasiswa Biasa dengan Sikap Luar Biasa

Di kampus, mahasiswa itu terbagi dua: yang sibuk rebut parkiran, dan yang sibuk rebut keadilan. Nah, di antara deru motor, suara knalpot standar, dan debat yang kadang lebih panas dari cuaca Jogja, muncul satu nama: Tiyo Ardianto.

Tiyo bukan mahasiswa biasa. Ia Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) periode 2025. Jabatan itu nggak bikin hidupnya penuh tepuk tangan, malah lebih sering penuh tekanan. Di bawah kepemimpinannya, BEM UGM memutuskan keluar dari BEM Seluruh Indonesia. Bayangkan, itu seperti mutusin langganan grup WhatsApp yang isinya debat tanpa ujung: lega, tapi tetap bikin kepala pusing.

Mahasiswa Filsafat angkatan 2021 asal Kudus ini punya cara masuk kuliah yang anti-mainstream: jalur non-formal. Ibarat naik gunung, orang lain lewat jalur umum, dia pilih jalur alternatif—sama capeknya, tapi pemandangannya beda. Tiyo terbiasa bertanya “mengapa” sebagai anak Filsafat, tapi sebagai Ketua BEM, dia juga sering bertanya “untuk siapa”. Contohnya, program Makan Bergizi Gratis dikritiknya karena bisa menggerus anggaran pendidikan. Buat sebagian orang, itu agak aneh, tapi buat Tiyo, anggaran pendidikan jangan sampai nasibnya seperti kuota malam: banyak di iklan, tipis saat dipakai.

Awal 2026 jadi momen panas. BEM UGM di bawah Tiyo mengirim surat terbuka ke UNICEF menanggapi tragedi siswa SD di Nusa Tenggara Timur yang bunuh diri karena alat tulis seharga kurang dari Rp10 ribu. Surat itu menyoroti kegagalan negara menjamin hak anak atas pendidikan. Kritik pun diarahkan ke proyek Makan Bergizi Gratis dan Presiden Prabowo Subianto, sampai jadi perbincangan nasional—semacam viral tapi versi kampus yang serius.

Situasi semakin memanas ketika pada 13 Februari 2026 Tiyo kembali berorasi dalam sebuah aksi di Bundaran UGM bersama akademisi dan aktivis, mengenakan kaos bertuliskan “Maling Berkedok Gizi” sebagai kritik terhadap proyek MBG.

Situasi makin memanas. 13 Februari 2026, Tiyo turun ke Bundaran UGM, berorasi bersama akademisi dan aktivis, mengenakan kaos bertuliskan “Maling Berkedok Gizi.”

Tak lama setelah viral, ancaman berdatangan. Pesan WhatsApp bernada intimidasi dari nomor internasional Inggris, tuduhan korupsi digital, bahkan keluarga ikut menerima fitnah. Meski keselamatan terancam, Tiyo mengajukan perlindungan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban—tapi satu hal tak berubah: BEM UGM tidak akan mundur. Kritik baginya bukan kebencian, melainkan kepedulian yang tak mau diam.

Meski begitu, Tiyo tetap manusia biasa: antre makan di kantin, pusing tugas, dan sesekali tersedak kopi. Tapi di tengah riuh demokrasi Indonesia, keberaniannya jadi pengingat: kebebasan berpendapat bukan sekadar pasal di buku, tapi napas yang harus dijaga. Di kampus, debat itu biasa. Yang luar biasa adalah ketika suara dipaksa diam. Dan mungkin, di antara kopi yang mulai dingin dan obrolan yang belum selesai, kita diingatkan bahwa perubahan sering dimulai dari satu suara yang memilih untuk tidak diam.
Tiyo Ardianto: mahasiswa, filsuf, pemimpin, dan sesekali pengingat bahwa kadang, berani itu lebih penting daripada nyaman.
(IAB)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *