Di salah satu sudut Kota Padangsidimpuan, persisnya dipersimpangan yang selalu riuh dengan deru mesin kenderaan yang melintas, ada satu “Lopo Kopi” (warung kopi) yang tidak pernah sepi pengunjung. Tidak tanggung-tanggung, meski sangat sederhana, Lopo Kopi itu menjadi salah satu tempat berkumpul tokoh – tokoh Kota Padangsidimpuan.
Lopo Kopi sederhana yang terletak di Jalan Sutomo atau yang lebih dikenal dengan sebutan Simpang IKIP itu dikelola seorang tokoh masyarakat bernama, Khalifah Makmun Nasution. Karena lopo kopi itu tidak memiliki nama resmi, pengunjung memberi nama lopo kopi itu “Lopo Khalifah”.
Beberapa tokoh penting yang menjadi pelanggan tetap Lopo Khalifah seperti, Mantan Walikota Padangsidimpuan pertama, Drs Zulkarnaen Nasution, Drs Bahrum Harahap mantan Ketua DPRD Tapsel dan mantan Bupati Padang Lawas Utara, (Alm) Amiruddin Lubis mantan Sekda Kota Padangsidimpuan.
Selain itu, ada juga beberapa tokoh pemuda masa itu seperti, (alm) Mustafa Ramadhan Siregar, Adnan Buyung Lubis, dan Zulkifli Lubis alias Mamak Utom.
Di lopo kopi ini, para tokoh – tokoh itu membahas seluruh persoalan daerah. Dan salah satu yang phenomenal, di Lopo Kopi Khalifah inilah para tokoh itu membahas dan merumuskan pendirian Pemko Padangsidimpuan. Yang saat itu masih berstatus sebagai Kota Administratif yang dipimpin Walikotif, Drs Zulkarnaen Nasution MM.
Ditemani aroma kopi yang khas karena airnya dimasak pakai kayu bakar, disitulah lahirnya sebuah takdir politik menyangkut masa depan Kota Padangsidimpuan. Para tokoh itu telah merumuskan sebuah konsep meningkatkan status Kota Administratif menjadi Pemerintahan Kpota Padangsidimpuan.
Dan itu, jauh sebelum dokumen resmi negara berupa Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2001 mendarat di meja birokrat, “kota salak”.
“Ide dan konsep pemekaran Kota Padangsidimpuan dari kabupaten induk Tapanuli Selatan lahir ditengah kepulan asap rokok, bau aroma kopi, dan diskusi sengit di Lopo Khalifah”.
Lopo Khalipah, menjadi saksi bisu tempat pertemuan “Meja Bundar” para pendekar otonomi. Mereka melahirkan ide dan gagasan sambil menyeruput dan menikmati segelas kopi kental Lopo Khalifah.
Jejak yang nyaris terkubur debu waktu itu, kembali diangkat Zulkifli Lubis (Mamak Utom). Lewat penelusurannya, Mamak Utom mengungkap bahwa, di meja bundar itulah masukan-masukan krusial dialirkan kepada Zulkarnaen Nasution.
“Di sanalah para tokoh memberikan masukan langsung mengenai visi dan misi serta masa depan Kota Padangsidimpuan,” kenang Mamak Utom.
Pertemuan di Lopo Khalipah adalah personifikasi dari kearifan lokal yang kental. Di tengah ketiadaan ruang sidang formal yang mewah, lopo menjadi ‘Parlemen Jalanan’ yang paling jujur. Aspirasi yang lahir dari Simpang IKIP itulah yang kemudian bertransformasi menjadi naskah akademik, lalu bermuara pada pengakuan negara atas berdirinya Pemerintah Kota Padangsidimpuan.
Bagi publik Kota Padangsidimpuan, catatan Mamak Utom bukan sekadar romantisme masa lalu. Namun, hal itu adalah pengingat bahwa kota ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari dialektika di meja bundar warung kopi, tempat di mana mandat rakyat benar-benar bermula. (Red/PH).












Komentar