Ada sebuah pepatah lama yang mengatakan, “Jangan memandang rendah siapa pun, karena rahasia masa depan tidak pernah ada yang tahu.” Kalimat ini menemukan bukti nyatanya pada momen pelantikan Rahmat Marzuki, SH. MH. sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Padangsidimpuan yang baru saja dilakukan oleh Wali Kota Dr. H. Letnan Dalimunthe, SKM., M.Kes..

Di balik prosesi formal tersebut, terselip sebuah kisah tentang dinamika karier yang sangat inspiratif. Rahmat Marzuki, yang kini menjabat sebagai pimpinan tertinggi ASN di lingkungan Pemko Padangsidimpuan, dulunya merupakan bawahan langsung dari Rahuddin Harahap, SH. MH. Sewaktu dia menjabat Kabag Hukum.
Roda Kehidupan yang Berputar
Peristiwa ini adalah pengingat keras bagi kita semua bahwa posisi dan jabatan hanyalah titipan sementara. Hari ini kita mungkin memberi instruksi, namun esok hari bisa jadi kita yang menerima arahan dari orang yang pernah kita pimpin.
Dinamika ini mengajarkan tiga hal utama dalam menjaga etika profesional:
- Integritas dan Karakter: Sebagaimana disampaikan dalam prinsip etika kepemimpinan, kualitas seorang pemimpin sejati diukur dari caranya memperlakukan bawahan. Jika kita memimpin dengan empati dan rasa hormat, maka saat peran bertukar, rasa hormat itu akan tetap ada, melampaui batas jabatan formal.
- Keadilan Takdir: Karier Rahmat Marzuki yang menanjak dari Plt. Sekda hingga menjadi definitif membuktikan bahwa kerja keras dan garis tangan tidak akan pernah mengkhianati hasil.
- Profesionalisme di Atas Segalanya: Di bawah pimpinan baru, etika kerja yang utama adalah tetap saling mendukung tanpa membanding-bandingkan masa lalu. Rahuddin Harahap dan Rahmat Marzuki memberikan contoh bagaimana birokrasi harus berjalan: dengan kedewasaan sikap dan loyalitas pada tugas negara.
Pesan untuk Kita Semua
“Jangan pernah meremehkan orang lain.” Kalimat ini bukan sekadar klise, melainkan sebuah strategi hidup. Menghargai orang lain saat kita di atas adalah investasi karakter. Sebab, seperti roda yang berputar, kita tidak pernah tahu kapan giliran kita berada di bawah atau kapan bawahan kita akan menjadi pintu bagi kesuksesan kita selanjutnya.
Semoga kisah dari Padangsidimpuan ini menjadi refleksi bagi kita untuk selalu menebar kebaikan kepada siapa pun, tanpa melihat pangkat dan jabatan. Karena pada akhirnya, yang tersisa bukanlah seberapa tinggi jabatan kita, melainkan seberapa baik jejak yang kita tinggalkan di hati orang-orang yang pernah bekerja bersama kita.












Komentar